Tampilkan postingan dengan label susu formula. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label susu formula. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Juni 2013

Membantukah Pemberian Formula & Dot Diawal Kelahiran Bayi?

Sering sekali kita mendengar ada perkataan: “Ooh ibu menyusuinya dibantu dengan formula juga kah?”. Nah pertanyaan ini menggelitik sekali karena apakah betul formula bisa membantu proses perkenalan awal antara sepasang ibu dan bayi atau malah mempersulit proses menyusui?
Untuk menajawab ini, tidak ada salahnya kita lihat dulu bagaimana kerja lambung bayi ketika baru dilahirkan. Dinding lambung bayi ketika baru lahir masih berlubang dan ini mengakibatkan protein dan patogen bisa masuk menyelip diantara lubang-lubang tersebut. Dibutuhkan waktu beberapa minggu untuk lambung bayi ini bisa menutup dengan rapat dan kolostrum merupakan cairan awal yang sangat sesuai untuk melapisi lambung ini dengan tujuan melindungi bayi dari alergi dan infeksi pada bayi baru lahir. Karena lambung bayi masih sangat kecil ketika baru lahir, maka kebutuhan kolostrum pun memang tidak terlalu banyak dan sesuai dengan kebutuhannya saat itu.
Pemberian formula diawal kelahiran bayi juga mengubah kondisi flora dalam lambung dan usus bayi. Kondisi lambung dan usus bayi ketika baru lahir memiliki kadar basa yang tinggi hal ini menyebabkan keseimbangan asam dan basa pada bayi terjaga ketika mendapatkan ASI yang mengandung 47% bakteri bifido baik yang dibutuhkan untuk kesehatan lambung. Bayi yang mendapatkan formula, keseimbangan asam-basa ini terganggu sehingga menyebabkan tingginya kadar asam dalam lambungnya. Kondisi ketidakseimbangan asam-basa inilah yang bisa mengganggu metabolime dalam tubuh bayi dan menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh si kecil.
Disinilah pentingnya bayi untuk bisa melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), dimana bayi bisa melatih insting yang dibekali oleh semua bayi mamalia untuk bisa mencari sumber kehidupannya yakni payudara ibunya. Selain itu, IMD juga membantu bayi untuk segera mendapatkan kolostrum yang seperti kita bahas sebelumnya, sangat bermanfaat bagi kesehatan di pencernaan bayi.
04-no-dotBelum lagi kandungan formula yang belum tentu bisa diserap semua oleh tubuh bayi yang juga bisa mengakibatkan kerja ekstra pada pencernaan bayi, sayangnya hal ini yang justru sering sekali luput oleh kita. Bayi yang mendapatkan formula biasanya akan terlihat lebih tenang atau banyak tidur. Karena bayangkan saja lambungnya mendapatkan asupan sekian banyak yang melebihi kapasitas usianya yang mengakibatkan bayi merasa selalu kenyang. Hal ini berbeda dengan ASI yang mudah diserap oleh tubuh dan kuantitasnya sesuai dengan kebutuhan bayi, sehingga bayi memang akan sering terbangun dan menyusu lagi. Karena memang inilah yang kodrati. Bayangkan kita sedang haus, sedangkan kita saat ini haus sekali dan gelas yang ada sangat kecil. Kemungkinan yang ada kita akan berulang kali mengisi gelas kecil tersebut dengan air sampai rasa haus tadi terpenuhi. Sama dengan bayi, karena lambungnya masih kecil, mereka akan sering menyusu untuk memenuhi kebutuhan yang ia perlukan.
Setelah kita membahas apa kandungan dalam formula dan bagaimana reaksinya dalam tubuh bayi jika diberikan, mari kita kupas bagaimana dengan penggunaan dot, karena biasanya pemberian formula selalu melalui media dot yang tentunya memiliki efek yang turut memperumit situasi menyusui bagi pasangan ibu dan bayi.
Mekanisme kerja dot sangat berbeda dengan bagaimana seorang bayi menyusu ke payudara. Bayi tidak perlu membuka mulutnya dengan lebar untuk bisa mengeluarkan isi dalam dot karena dot jika kita balik saja sudah bisa menetes keluar isinya. Tentunya ini membuat mulut bayi seperti mencucu atau monyong sedikit dan dia pun akan bisa mendapatkan apa yang ada di dalam botol. Jika diawal proses melahirkan bayi sudah berkenalan dengan botol maka akan sulit membuat bayi untuk bisa membuka mulutnya dengan lebar ketika akan ‘berkenalan’ dengan payudara untuk menyusu. Karena semua bayi mamalia yang terlahir di muka bumi ini memiliki insting untuk mencari sumber kehidupannya sesaaat setelah lahir yakni puting ibunya, maka jika proses ini digantikan oleh botol dan dot maka perkenalan awal ini bisa mempersulit hubungan menyusui antar ibu dan bayi yang baru saja akan dibina.
Perkenalan awal pada dot juga berandil ketika bayi melekat pada payudara dengan mulut mencucu dan mengakibatkan puting lecet dan tentunya membuat ibu kesakitan teramat sangat ketika menyusui. Bahkan saya pernah mendengar sebuah pernyataan yang banyak diamini oleh para ibu yang mengatakan, “menyusui itu lebih sakit daripada proses melahirkan loh!” Padahal sudah banyak pakar dan ibu yang merasakan langsung bahwa pelekatan yang baik seyogyanya tidaklah membuat payudara lecet apalagi sakit teramat sangat. Karena ibu merasa kesakitan dan puting juga lecet parah, maka datanglah ‘bantuan’ formula dan dot yang dirasa bisa ‘meringankan’ beban ibu untuk sementara waktu sampai menunggu lecet di puting ibu pulih. Padahal kondisi ini semakin membuat hubungan menyusui antara ibu dan bayi semakin menjauh karena bayi pun semakin akrab dengan botolnya. Perlahan-lahan produksi ASI ibu pun mulai menurun karena permintaan ke payudara tidak sesuai dengan permintaan sesungguhnya karena bayi mendapatkan tambahan asupan lain.
Proses persalinan juga memiliki andil besar terkait dengan insting bayi untuk menyusu. Karena seorang bayi yang terlahir cukup bulan dengan kondisi sehat dan stabil selayaknya akan bisa menggunakan insting menyusunya dengan baik juga. Namun ketika kita melakukan intervensi dalam proses persalinan seperti penggunaan induksi atau bedah sesar, efek obat yang diberikan bisa juga mempengaruhi kondisi bayi yang akan lebih mengantuk dan kurang alert untuk sigap mencari sumber kehidupannya yakni payudara ibu mereka.
Selain itu, kadang kita lupa dengan kodrat kita sebagai makhluk mamalia, bagaimana penggunaan dot pun memiliki efek jangka panjang pada perkembangan rahang, mulut dan bahkan geligi bayi kita kelak. Sudah ada studi yang menunjukkan kerja otot yang berbeda saat bayi menghisap botol dengan ketika bayi menyusu di payudara ibunya. Hal ini tentunya memiliki imbas pada perkembangannya kelak. Tidakkah kita sadari penggunaan kawat gigi pada anak-anak saat ini terlihat marak sekali? Kenapa kira-kira geligi anak-anak sekarang banyak yang maju ke depan dan tumbuhnya kadang tidak rapih?
Tapi bagaimana kalo kita memberikan dot yang berisi ASI? Jawabannya resiko bayi kebingungan akan puting ibunya tentu akan tetap ada. Kebingungan inilah juga yang seringkali berakibat produksi ASI di payudara ibu perlahan menurun, karena bayi menggunakan teknik menghisap botol dengan mencucu ketika menyusu di payudara. ASI yang keluar dari payudara pun tidak optimal, pelan-pelan payudara menurunkan kapasitas produksinya, karena permintaan tidak sesuai dengan yang diproduksi. Situasi ini yang seringkali tidak disadari para orang tua yang akhirnya mengambil kesimpulan “ASI saya tidak cukup!”
Banyak alternatif cara lain dalam memberikan ASI kepada bayi jika ibu tidak bisa bersama bayi. Pemberian ASI dengan media gelas kecil atau pipet atau spuit juga akan sangat membantu dan terbukti membantu agar bayi tidak mengalami bingung puting. Tetapi, jika kita pikir-pikir lagi ya.. Dan sebenarnya yang benar-benar bingung dalam situasi ini siapa ya? Kita atau bayi-bayi kita? Mereka kan hanya memilih apa yang kita berikan pada mereka. Jangan-jangan kita yang selama ini terjebak dalam pemahaman yang keliru dan membuat diri kita sendiri tersesat dalam memahami apa yang sebenar-benarnya bayi kita butuhkan secara kodrati?
Satu hal yang juga menarik adalah para orang tua seringkali memiliki ekspektasi tersendiri tentang bagaimana perilaku seorang bayi baru lahir yang akhirnya membuat kita seringkali terjebak pada pemahaman kita sendiri. Contohnya: kita sering mengira bayi itu hanya menyusu pada waktu-waktu tertentu yang berjarak cukup panjang atau setiap interval 2 jam. Kita juga tidak jarang menduga bayi akan sering tidur karena lagi-lagi terjebak dalam istilah “sleep like a baby.” Padahal kita ketahui juga justru yang kodrati adalah bayi akan rutin terbangun untuk menyusu karena seperti penuturan diatas, lambung yang kecil membuat ia akan sering mengisi. Inilah yang alamiah dan natural.
Realita yang ada bayi memang akan sering menyusu sering diawal-awal kelahirannya dan bisa juga menyusu dalam frekuensi yang panjang. Realitanya juga bayi kadang menyusu sebentar-sebentar dan berulang kali. Realitanya juga bayi akan sering bangun untuk menyusu karena memang itulah yang kodrati dan alamiah. Perbedaan ekspektasi dan realita yang ada inilah yang membuat konflik tersendiri dalam pemikiran para orang tua. Konflik inilah juga yang membuat kita seringkali mencari jalan pintas dengan ‘membantu’ ibu menyusui dengan memberikan formula dan dot supaya para ibu bisa beristirahat. Nah sekarang coba kita tilik lagi penjelasan diatas, apakah benar pemberian formula dan dot itu benar-benar ‘membantu’ seorang ibu yang sedang ‘berkenalan’ dengan bayi barunya dan belajar menyusui bayinya? Atau jangan-jangan kita selama ini sudah terjebak dalam ketidaktahuan yang imbasnya adalah mempersulit bayi-bayi kita dalam mendapatkan asupan mereka yang kodrati dan alami yakni ASI.

PS: pada kondisi tertentu pemberian formula memang diperlukan atas indikasi medis dan alasan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Akan lebih baik jika kita perlakukan formula itu seperti obat, yang memang harus diresepkan tenaga kesehatan dan diberikan dengan takaran yang tepat dan penuh kehati-hatian. Namun penting menjadi catatan bersama, pemberian formula harus disadari juga resikonya dan tenaga kesehatan wajib informasikan hal ini ke orang tua. 

Sumber : http://aimi-asi.org/membantukah-pemberian-formula-dot-diawal-kelahiran-bayi/

Kamis, 16 Februari 2012

ASI vs SUFOR

Jadi inget, dulu pernah bikin riset ttg susu formula merek X, buatan Eropa di pertengahan tahun 2008. Interviewnya sama dokter-dokter anak di Indonesia, pas banget ketika saya sedang hamil.

Ketika saya ikut serta dalam riset ini, saya belum kebayang sama sekali bakal kasih ASI sampai 22bulan, dan kasih homemade food ke Alika; anak saya, dan gak memberikan susu formula sama sekali. Boro-boro kebayang pumping ASI dan bawa-bawa pompa dan segambreng peralatan perang ASI lainnya, wong dulu tuh mikirnya pasti soal "merek susu apa ya yg bagus?" atau nanya ke orang-orang: "Merek susu apa ya yang bagus?".

Sampai suatu hari Saya dapat kesempatan untuk bantu di project riset tentang susu formula merek ini. Fyi: ini adalah salah satu merek susu buatan Eropa yang terkenal di Indonesia.

Dan sebelum fieldwork dimulai, saya seperti biasa melakukan brainstorming meeting bersama orang brand (Orang Swiss) dan orang R&D yg menjadi salah satu peracik formula susunya (Dokter asal New Zealand).

Dari hasil brainstorming meeting ternyata diketahui bahwa alasan mereka membuat study pemasaran di Indonesia karena pangsa pasar susu formula di Indonesia itu sangat besar, termasuk dalam 5 besar di dunia. Sementara, di Eropa sendiri para produsen susu formula sangat susah buat jualan produk susu formula, karena pemerintahnya sangat galak dan sangat ketat dalam mengatur penjualan susu formula.

Hal ini berbeda dengan pemerintah Indonesia yang belum galak dan masih "Pro" Susu formula. Belum lagi ditambah dengan adanya stigma dari orang Eropa mengenai susu formula yang dianggap "rubbish product" - karena terlalu banyaknya process dalam pembuatannya: dari cair ke bubuk dan terlalu banyak bahan kimia yang dibutuhkan dalam proses pengubahan bentuknya dan terlalu banyak fortifikasi yang artinya terlalu banyak bahan kimia di dalamnya.  Makanya produk X ini mau meningkatkan penjualannya di Indonesia, karena memang lebih mudah dan lebih gampang :p

Ketika Saya mendengar cerita itu di meeting itu, Saya sebenarnya sudah agak shock dengan keterangan mereka, karena pemahaman saya mengenai susu formula "yang sangat sehat" ternyata salah.


Namun memang, meski sudah mendengar penjelasan orang Brand dan R&D tersebut, penjelasan tersebut masih belum begitu bisamembuat hati saya tergerak untuk memberikan ASI pada calon Bayi Saya. Saya bahkan masih terpikir untuk tetap kasih formula.... Mungkin campur laah 50% ASI : 50% formula. Kan saya kerja..?? *alesan*

Setelah selesai brainstorming meeting, saya iseng bertanya pada orang R&D yg meracik susu formula merek ini, karena beliau adalah Ibu dari 1 anak, dan anaknya berusia 3thn. Tujuannya seperti biasa, karena saya ingin cari referensi mengenai merek susu formula, soalnya dia kan dokter dan R&D susu formula. Jadi pastinya referensinya OK :p

Jadi langsung saja Saya tanya ke beliau, "Kalau Anda dulu kasih susu formula merek apa?" (dengan keyakinan, pasti dia akan bilang merek yang dia racik).

Ternyata saya mendengar jawaban diluar harapan saya, karena dia bilang:"Saya tidak kasih susu formula sama sekali" *Saya bengong*.

Lalu saya tanya lagi: "Terus dikasih apa? Susu UHT?"

Dijawab sama beliau: "Tidak, saya baru kasih UHT ketika umur 2 tahun" *dan saya makin bingung dan shock*

Saya tanya lagi: "Terus dari 0 - 2 tahun anak Anda dikasih apa?"

Dia jawab sambil tersenyum: "Saya kasih ASI, karena susu formula itu nutrisinya itu tidak sebanding dengan ASI."

Agak shock denger jawaban dari si ibu R&d itu. Apalagi pas denger dia bilang lagi:"Saya menyusui smp anak saya umur 24bln, setelah itu langsung saya kasih UHT. No formula at all!" *Dan saya pun menganga*

Saya tanya lagi" seriously?"

Dia jawab lagi: "Yup. Very serious". Dan semua orang mendorong saya untuk memberikan ASI. Jadi masa menyusui Saya menjadi lebih mudah"

Tetapi tetep aja... Meski sudah denger pengakuan si R&D itu... Saya masih agak tidak percaya dengan pengakuan dia, sampai pada akhirnya saya menginterview 5 dokter anak di Indonesia: 3 yang Pro ASI, dan 2 Yang Tidak Pro ASI.

Hasilnya? Semua dokter anak yg diinterview itu mengakui hal yg sama: ASI is the best dan paling cocok dengan metabolisme bayi. Dan susu formula cuma bisa diserap 0,sekian persen oleh tubuh bayi.

Bahkan 2 dari 3 dokter yg pro ASI kasih urutan gimana nutrisi diserap bayi dari bayi msh dlm kandungan sampai dia 2 thn:

ketika bayi di kandungan: bayi akan menyerap semua nutrisi dari sari makanan (bukan susu ya) yg dikonsumsi ibunya. Dan nutrisi yang dibutuhkan oleh si Bayi ketika dalam kandungan itu cuma sedikit, gak perlu jumlah yang banyak, karena si janin itu kan juga ukurannya masih sangat kecil jika dibandingkan kebutuhan manusia biasa.

Jadi even Susu hamil juga tidak perlu, karena kebutuhan kalcium/folat/AA/DHA/Kolin itu bisa didapat dari makanan yang dikonsumsi oleh si Ibu. Jadi, asal Ibu makan makanan yang sehat (sayur, ikan, telur, daging, buah) secukupnya, pasti kebutuhan nutrisi sang janin dan sang Ibu akan terpenuhi.

Dan dokter kandungan biasanya sudah kasih vitamin dan supplement yang menunjang nutrisi sang janin. Jadi minum susu hamil sebenarnya malah bisa membuat Ibu obesitas karena kelebihan kalori (bukan nutrisi).

Ketika bayi umur 0-6bln: Bayi cuma bisa menyerap ASI, karena ASI sangat sesuai dengan pencernaan bayi yang masih sangat rentan dan sangat sensitif, karena kandungan ASI yang sangat spesifik. Dan AA, DHA, AA, dsb yang di dalam ASI-lah yang cuma bisa diserap sempurna oleh otak Bayi :). Sementara kandungan dalam susu formula secara umum cuma bisa diserap bayi 5-10%kl gak salah (lupa euy, udah lama bgt soalnya risetnya) CMIIW.

Ketika bayi usia 6-12bln: Bayi  menyerap 70%ASI, dan 30%nya adalah sari makanan.

Oleh karena dari itu, buat Ibu-ibu yang anak-anaknya usia 6-12bulan, sebenarnya di masa ini tidak perlu terlalu khawatir kalau anaknya ketika di usia ini masih susah makan, karena di masa ini sebenarnya adalah masa untuk mulai mengajarkan anak dan mengenalkan anak makanan padat, bukan untuk memenuhi kebutuhan total nutrisi harian anak. Sementara susu formula? Cuma bisa diserap sekitar 15-20% (CMIIW).

Ketika bayi usia 12 - 18bln: Bayi bisa menyerap ASI 50% dan sari makanan 50%

Ketika bayi usia 18-24bln:Bayi menyerap ASI sebesar 30% dan sari makanan 70%, dan disini peran ASI lebih pada daya tahan/body immunity, karena di usia ini bayi sangat rentan terkena virus/bakteri karena sudah mulai lebih banyak memakan makanan padat dan mulai mengalami fase oral alias mulai memasukkan semua barang ke mulut :p

Dan  AA, DHA, Kolin, Prebiotik yang dibutuhkan Bayi di rentang usia ini hanya bisa diserap sempurna 100% kalau sumbernya dari sari makanan yang dimakan oleh bayi dan dari ASI (dari sari makanan yang dikonsumsi Ibu yang menyusui).

Sementara ketika  anak berusia 2thn ke atas, sebenarnya susu formula sudah tidak bisa diserap lagi karena memang sudah tidak ada perannya dalam pertumbuhan anak, sementara ASI msh bisa diserap untuk kepentingan daya tahan tubuh/body immunity.

Oleh karena itu, bayi yang mengkonsumsi susu formula biasanya akan sangat jauh lebih gemuk, karena memang kandungannya tidak terpakai dan tidak terserap dengan sempurna, sehingga berubah bentuk jadi lemak, sementara ASI terserap sempurna oleh tiap elemen dalam tubuh bayi, terutama oleh otak si Bayi :)

Oleh karena itu juga, menurut pengakuan 2 dokter yang tidak Pro ASI, mereka biasanya kalau menyarankan susu formula pasti selalu dengan alasan: "Biar anak Ibu lebih gemuk/tidak kekurangan berat badan" (itu pengakuan para dokter itu loh.. :p)

Dan... DHA, AA, Kolin, Spengomiolyn yg ada di susu formula sampai sekarang belum diketahui manfaatnya..atau bahkan efek sampingnya!! (Dan menurut orang brand dan orang R&D brand X ini, WHO juga sudah menyatakan hal yang sama soal ini).

Kenapa dikatakan belum ketahuan manfaat dan efek sampingnya? Karena bayi-bayi yang mengkonsumsi susu dengan kandungan AA, DHA, Kolin, dsb ini rata2 lahir dr th 2000 ke atas, tahun-tahun di mana kandungan-kandungan ini mulai diperkenalkan oleh para produsen susu formula.

Dan bayi-bayi yg mengkonsumsi AA, DHA, LA dsb yang ada dalam susu formula ini BELUM ADA yang menjadi ibu, sehingga belum tahu efek jangka panjang dan efek domino yang dihasilkan oleh kandungan-kandungan itu.

Dan pengakuan yang paling menakutkan buat saya sebenarnya adalah ketika orang brand dan R&D dari brand susu formula X ini menceritakan kalau semua kandungan itu tidak ada yang pernah diuji cobakan ke bayi manusia sebelumnya!!! (Scary huh?!!)

Akhirnya, sejak saya tahu info-info soal itu, mata saya jadi terbuka sangat-sangat lebar.... Dan sejak saat itu juga saya langsung mengubah niat saya untuk kasih ASIX, karena Saya pikir "Yang membuat racikan susu formula saja kasih ASI, masa Saya engga?"

Demikian sharing pengalaman Saya. Mohon maaf ya kalau ada yang tidak berkenan atau salah-salah info. Maklum, risetnya dibuat thn 2008 pertengahan :)

Sumber : http://afraamalia.multiply.com/journal/item/202/Pengalaman_pribadi_studi_Riset_Pemasaran_tentang_ASI_VS_Sufor?utm_source=facebook&utm_medium=addthis&utm_campaign=afraamalia